Apakah yang kau tanam?

Apakah yang kau tanam?

IF YOU PLANT………..

If you plant honesty, you will reap trust.
If you plant goodness, you will reap friends.
If you plant humility, you will reap greatness.
If you plant perseverance, you will reap victory.
If you plant consideration, you will reap harmony.
If you plant hard work, you will reap success.
If you plant forgiveness, you will reap reconciliation.
If you plant openness, you will reap intimacy.
If you plant patience, you will reap improvements.
If you plant faith, you will reap miracles.

But:

If you plant dishonesty, you will reap distrust.
If you plant selfishness, you will reap loneliness.
If you plant pride, you will reap destruction.
If you plant envy, you will reap trouble.
If you plant laziness, you will reap stagnation.
If you plant bitterness, you will reap isolation.
If you plant greed, you will reap loss.
If you plant gossip, you will reap enemies.
If you plant worries, you will reap wrinkles.
If you plant sin, you will reap guilt.

So be careful what you plant now, it will determine what you will reap tomorrow.

watch your thoughts, they become words.
watch your words, they become actions.

watch your actions, they become habits.

watch your habits, they become character.
watch your character, it becomes your DESTINY”

Sepenggal saja tentang: Tata Nilai Manusia Jawa

Menjaga kebaikan, keindahan, dan kelestarian dunia harus dimulai dari diri manusia sendiri dengan menjaga kebenaran pemikiran dan ucapan, kebaikan perilaku, keharmonisan dan keindahan tatanan pergaulan hidup, baik dengan sesama manusia, dengan alam semesta, dan terutama dengan Tuhan. Kebenaran pemikiran dan ucapan membuahkan kejujuran, dan kejujuran membuahkan kebaikan. Terdapat kepastian yang tak terelakkan bahwa barang siapa berbuat baik dengan benar, niscaya dia akan tegak dan barang siapa berbuat salah dengan cara apa pun, pasti dia akan runtuh (wong bener jejer, wong salah sèlèh), tidak peduli apakah dia seseorang yang berdarah biru (trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih) atau berharta dan berkedudukan sosial tinggi (bèr bandha bèr bandhu, kajèn kèringan), ataukah orang kecil (wong cilik) dengan status sosial rendah (wong pidak pejarakan). Sesungguhnya, harkat dan martabat seseorang lebih ditentukan oleh kata dan perbuatannya (ajining dhiri saka lathi lan pakarti). Barang siapa berbuat baik tampaklah kebajikannya, barang siapa berbuat kejahatan akan ketahuan pula keburukannya, dan barang siapa berbuat kejahatan niscaya akan akan sirna keberuntungan dan keberkatannya, dan dijauhkan dari kasih sayang dan anugerah Tuhan (becik ketitik ala ketara, sapa kang agawé ala bakal sirna wahyuné). Sehebat apa pun kekuatan keangkaramurkaan akan dapat ditundukkan oleh kebajikan (sura sudira jayaning kang rat, swuh brastha tekaping ulah darmastuti).

Dunia ini berputar dan berubah, begitu pula dengan nasib manusia juga berubah-ubah, berputar, berganti (cakramanggilingan). Oleh karena itu manusia jangan mudah takjub dengan kesementaraan perubahan yang memukau (aja gumunan, aja kagetan), dan jangan pula menyombongkan diri dan meremehkan orang lain dikala dirinya berjaya sementara orang lain sedang sengsara (aja dumeh). Boleh jadi suatu saat nanti status sosial seseorang atau keturunan orang yang status sosialnya tinggi menjadi sengsara, sementara orang kecil atau keturunan orang yang berstatus sosial rendah malahan bisa berjaya (tunggak jarak mrajak, tunggak jati mati). Manusia harus berhati-hati dalam bertindak, jangan sampai melukai dan atau merugikan pihak lain. Setiap perbuatan yang dilakukan pasti akan berbuah akibat yang diterima oleh pelakunya(ngundhuh wohing pakarti). Perbuatan baik akan berbuah kebajikan, perbuatan buruk akan berbuah keburukan (sapa kang nandur bakal ngundhuh, sapa kang gawé bakal nganggo, sapa kang utang bakal nyaur).

Watak mulia harus diikhtiarkan dengan menjauhi perangai buruk seperti angkuh, bengis, jahil, serakah, panjang tangan, gila pujian (aja ladak lan jail, aja serakah, aja celimut, aja mburu aleman). Jangan menyombongkan kepandaian, harta, paras elok, dan busana (aja sira ngegungaken akal, bagus iku dudu mas picis, lawan dudu sandhangan). Jangan pula menyombongkan diri dengan keberanian, suka menantang untuk bertengkar, tidak tahu malu, iri hati, dengki, dan suka mencela orang lain (aja watak sira sugih wani, aja sok ngajak tukaran, aja anguthuh, aja ewanan lan aja jail, poma sira aja drengki, dahwen marang ing sasama). Dalam hidup hendaklah orang jangan menyombongkan diri dengan berlebih-lebihan membanggakan kekuatan baik fisik, harta, maupun kekuasaanya, keagungan keturunan atau kebesaran derajat sosialnya, dan kepandaiannya (aja adigang, adigung, adiguna).

Semua watak buruk itu harus dihindari, dijauhi, dan ditinggalkan. Orang harus senantiasa berusaha menanam kebajikan dan terus-menerus menyemai budi luhur sebagai keutamaan (nandur kabecikan, ndhedher kautaman). Orang yang baik selalu berusaha menyenangkan hati orang lain (amemangun karyénak tyasing sesama), seperti mengemukakan pendirian secara lembut (pambegané alus; landhep tanpa natoni), berhati-hati dalam berbicara (yèn angucap ngarah-arah), tingkah dan tutur katanya bersahaja (tingkah una-niné prasaja), setiap ucapannya terasa sejuk menembus kalbu karena dilandasi nurani yang bersih (saujaré manis trus ati), bertenggang rasa dan berbelas kasih kepada semua makhluk hidup (kèh tepané mring sagunging urip). Pendek kata, semua makhluk ingin dibahagiakannya (sama dèn arah raharjané).

sumber: Yogyakarta

Trik Rahasia Iklan

Bagaimana Cara Melipatgandakan Penjualan Anda dengan Membuat Google menjadi “BUDAK” anda selamanya dalam mempromosikan barang di internet.

Jika saat ini anda hanya ingin memasang iklan di Situs Iklan dengan iklan yang sama dan ala kadarnya. Lebih Baik anda lupakan halaman ini. Tapi jika tidak…

Akan saya beritahu rahasia kecil sehingga membuat satu iklan anda dapat mendatangkan ribuan traffik perhari. Caranya mudah…Manfaatkan BLOG ini Seoptimal mungkin untuk mendatang traffik ke website anda.

OK saya akan beritahu sekenarionya seperti ini. Jika anda memasang iklan secara sembarangan, Iklan anda hanya akan tampil di pada halaman pertama web kami. Memang akan mendatangkan traffik tapi setelah itu otomatis akan tergeser karena akan banyak pemasang iklan lain yang akan menggantikan posisi pertama anda.

Dan saat Google mengindex website ini…Iklan yang telah anda buat hanya sekedar terindex tapi tidak akan berada pada halaman pertama Google. Melainkan halaman-halaman terakhir (yang tentu orang tidak akan ada yang melihatnya).

Tapi jika Iklan anda ter-OPTIMAL mau tidak mau Google harus menempatkan iklan anda di halaman pertama mereka. Dan sudah pasti ribuan traffik akan menjadi milik anda. Lalu apa yang harus dilakukan. Gampang! Ikuti saja langkah-langkah ini.

1. Tentukan Keyword anda

Anda harus mampu menemukan 4-6 keyword yang PALING BEHUBUNGAN dengan produk anda. Misalnya Produk anda adalah “Obat Penghilang Jerawat”. Maka keywordnya menurut saya adalah Obat jerawat, wajah cantik, Kulit Halus, Tanpa efek samping. Usahakan keyword terdiri 2-3 kata

2. Membuat Judul Iklan.

Untuk Judul Iklan ini adalah sesuatu yang sangat VITAL. Kebanyakan Orang menjelajah internet dengan terburu-buru. Nah, untuk itu anda harus membuat judul iklan yang mampu MENGHIPNOPTIS perhatian pembaca dalam waktu singkat. Contohnya :

Bagaimana Saya Membuat wajah jelek menjadi wajah cantik dalam sekejab tanpa efek samping

atau bisa juga

AJAIB! Rahasia Kulit Halus telah kami temukan.

atau bisa juga

Obat Jerawat SPECIAL yang digunakan para artis.

Nah seperti yang anda lihat diatas bagaimana judul iklan yang dapat menarik perhatian pembaca Gunakan kata-kata yang bersifat MEMPROVOKASI semacam Bagaimana saya, LUAR BIASA, AMZING, Kontroversi, bukan sulap bukan sihir, RAHASIA, Formula, Terbaik, Cara Mudah, SPECIAL, AJAIB Dan masih ada ribuan kata lain yang bisa anda gunakan UNTUK MENARIK PERHATIAN PEMBACA

Selain kata-kata yang memprovokasi jangan lupa masukkan Minimal 1 keyword yang telah anda buat pada langkah pertama. Coba anda lihat judul-judul yang telah saya biat pasti MENGANDUNG setidaknya 1 keyword. Nah lanjut…..

3. Membuat Describsi Iklan

Jelaskan secara singkat Padat dan jelas Produk anda disini. Pada 200 kata pertama pastikan anda memasukkan keyword-keyword. Kalau saya 200 kata itu akan lebih mudah jika dibagi 2-3 paragaph dan masing-masign paragaph ada sua keyword.

Dan pastikan Keyowrd-keyword itu tidak saling berdekatan

Misal Paragaph pertama : Anda memiliki masalah dengan Jerawat sehingga wajah cantik anda menjadi JELEK. Ya telah di temukan OBat Jerawat dari penelitian terbaru Bla…Bla…Dan seterusnya.

Begitu juga nanti dengan paragaph selanjutnya

4. SELESAI.

Tapi jika ternyata masih belum berhasil meningkatkan traffik anda. Silahkan Pasang iklan anda lagi…Kali ini gunakan keyword yang lain.
Sumber: Blog Iklan
Sekarang silahkan anda pasang iklan
di http://blog-iklan.com/pasang-iklan-free.

Courtesy of Casa Padma

Courtesy of Casa Padma

1. TENTANG WISATA

Gejala pariwisata telah ada semenjak adanya perjalanan manusia dari suatu tempat ke tempat lain. Bermula dari melakukan perjalanan itulah muncul hasrat ikutan sebagai dampaknya untuk jalan jalan pada waktu luangnya yang kemudian menjadi kebutuhan berpelesir bersenang senang sejenak. Semenjak itu pula ada kebutuhan –kebutuhan manusia yang harus dipenuhi selama perjalanannya.

Dengan meningkatkan peradaban manusia, dorongan untuk melakukan perjalanan, semakin kuat, kebutuhan yang harus dipenuhi semakin komplek. Pada saat ini melakukan perjalanan wisata telah merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi.

Manfaat – manfaat dan peranan pariwisata, bagi suatu wilayah , negara maupun internasional sudah banyak diakui. Sehingga pariwisata telah menjadi salah satu bidang yang cukup penting di samping bidang –bidang lainnya, seperti bidang pertanian, pertambanggan, industri, politik dan sosial budaya.

Namun demikian , pengembangan pariwisata relatif masih baru dibanding dengan bidang –bidang lainnya yang telah disebutkan diatas. Adalah menjadi tantangan para ahli pariwisata untuk terus menggali, meneliti dan memikirkan sejauh mana pariwisata akan menjadi suatu disiplin ilmiah yang berdiri sendiri.

BEBERAPA PENGERTIAN POKOK

Untuk membicarakan pariwisata, ada beberapa pengertian pokok yang terlebih dahulu perlu diketahui. Kegunaan dari suatu batasan adalah sebagai titik tolak pembahasan.

Istilah – istilah yang diberikan untuk batasan –batasan dalam buku ini adalah :

1. Pariwisata ( Tourism )

2. Wisatawan ( Tourist)

3. Produk Wisata

4. Atraksi Wisata

5. Sarana Wisata

6. Prasarana Wisata

1. Pariwisata ( tourism)

Arti dari istilah pariwisata belum banyak diungkapkan oleh para ahli bahasa dan pariwisata di Indonesia.

Yang jelas kata pariwisata berasal dari bahasa Sangsakerta , terdiri dari dua suku kata, yaitu “ pari” dan “ wisata” . Pari berarti banyak, berkali-kali atau berputar-putar, sedangkan wisata berarti perjalanan atau bepergian. Jadi pariwisata berarti perjalanan yang dilakukan secara berkali-kali atau berkeliling.

Dalam Bahasa Inggris untuk Pariwisata digunakan istilah “ Tourism”.

Menurut seorang Ahli Ekonomi berkebangsaan Austria Norval, Pariwisata atau Tourism adalah “ the sum total of operations, mainly of an economic nature which directly relate to the entry, stay and movement of foreigners inside and outside a certain country, city or region.” ( Pariwisata adalah keseluruhan kegiatan, yang berhubungan dengan masuk, tinggal dan pergerakkan penduduk asing di dalam atau di luar suatu negara, kota atau wilayah tertentu.)

Definisi pariwisata yang lebih lengkap dikemukakan oleh Prof. Hunziker dan Kraft (1942) sebagai berikut : “ Tourism is the totality of relationships and phenomena arising from the travel and stay of strangers, provided the stay does not imply the establishment of a permanent residence and is not connected with a remunerated activity”. ( Pariwisata adalah keseluruhan hubungan dan gejala –gejala atau peristiwa – peristiwa yang timbul dari adanya perjalanan dan tinggalnya orang asing, dimana perjalanannya tidak untuk bertempat tinggal menetap dan tidak ada hubungan dengan kegiatan untuk mencari nafkah.)

Sedangkan menurut Keputusan R. I. No. 19 tahun 1969 , Kepariwisataan adalah “ merupakan kegiatan jasa yang memanfaatkan kekayaan alam dan lingkungan hidup yang khas, seperti hasil budaya, peninggalan sejarah, pemandangan alam yang indah dan iklim yang nyaman.”

Dari ketiga batasan tersebut penulis dapat menarik kesimpulan , bahwa pariwisata mencakup hal – hal sebagai berikut :

¯ Keseluruhan fenomena alam maupun buatan manusia yang di manfaatkan untuk wisatawan.

¯ Kegiatan –kegiatan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan selama melakukan perjalanan.

Ruang lingkup kegiatan pariwisata mencakup kegiatan –kegiatan sebagai berikut :

¯ Kegiatan yang berhubungan dengan angkutan dari tempat asal wisatawan sampai temapat tujuan selama di tempat tujuan dan kembali ke tempat asalnya.

¯ Kegiatan yang berhubungan dengan penyediaan , pengelolaan dan pengembangan atraksi, sarana , prasarana dan amenitas pariwisata.

¯ Kegiatan yang berhubungan dengan penyediaan dan pelayanan informasi tentang atraksi , sarana , prasarana dan segala sesuatu yang diperlukan wisatawan.

2. Wisatawan ( Tourist)

Kata wisatawan berassal dari bahasa Sangsakerta, dari asal kata “ wisata” yang berarti perjalanan ditambah dengan akhiran “ wan” yang berarti orang yang melakukan perjalanan wisata.

Dalam bahasa Inggris, orang yang melakukan perjalanan disebut traveller. Sedangkan orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan wisata disebut Tourist.

Definisi mengenai tourist, diantara berbagai ahli atau Badan Internasional, masih belum ada keseragaman pengertian. Perbedaan pengertian atau batasan di sebabkan karena perbedaan latar belakang pendidikan atau keahlian, perbedaan kepentingan dan perbedaan pandangan dari para ahli atau badan tersebut. Baik mengenai batasan wisatawan internasional maupun wisatawan domestik.

Dibawah ini akan dikemukakan batasan dari beberapa ahli dan badan internasional di bidang pariwisata :

A. Wisatawan Internasional

Norval, seorang ahli ekonomi Inggris, memberi batasa mengenai wisatawan internasional sebagai berikut : “ Every person who comes to a foreign country for a reason than to establish his permanent residence or such permanent work and who spends in the country of his temporary stay, the money he has earned else where”.

(Wisatawan adalah setiap orang yang mengunjungi suatu negara , dengan tujuan tidak untuk menetap atau bekerja tetap, dan membelanjakan uangnya di tempat tersebut dengan uang yang diperolehnya di tempat lain.)

Dari definisi tersebut, Norval lebih menekankan pada aspek ekonominya, sementara aspek sosiologi kurang mendapat perhatian.

Pada tahun 1937 , Komisi Ekonomi Liga Bangsa- Bangsa ( Economis Commission of The league of Nations), pertama kali memberikan batasan pengertian mengenai internasional tourist pada forum international . Rumusan tersebut adalah sebagai berikut :

The term tourist shall , in principle, be interpreted to mean any person travelling for a period of 24-hours or more in a country other than in which he usually resides”. ( Istilah Wisatawan pada dasarnya diartikan sebagai seseorang yang melakukan perjalanan selama 24 jam atau lebih di negara lain, selain dimana yang bersangkutan bertempat tinggal.)

Hal pokok yang penting dari batasan Liga Bangsa – Bangsa tersebut yang perlu dicatat adalah :

¯ Perjalanan dari satu negara ke negara lain

¯ Lama perjalanan sekurang-kurangnya 24 jam

Untuk selanjutnya Komisi Liga Bangsa-Bangsa ini, menyempurnakan batasan pengertian tersebut, dengan mengelompokkan orang –orang yang dapat disebut sebagai wisatawan dan bukan wisatawan.

Yang termasuk wisatawan adalah :

¯ Mereka yang mengadakan perjalanan untuk keperluan bersenang-senang, mengunjungi keluarga, dll.

¯ Mereka yang mengadakan perjalanan untuk keperluan pertemuan –pertemuan atau karena tugas tertentu , seperti dalam ilmu pengetahuan, tugas negara, diplomasi, agama , olah raga dll.

¯ Mereka yang mengadakan perjalanan untuk tujuan usaha.

¯ Mereka yang melakukan kunjungan mengikuti perjalanan kapal laut, walaupun tinggal kurang dari 24 jam.

Yang dianggap sebagai bukan wisatawan :

¯ Mereka yang berkunjung dengan tujuan untuk mencari pekerjaan atau melakukan kegiatan usaha.

¯ Mereka yang berkunjung ke suatu negara dengan tujuan utuk bertempat tinggal tetap.

¯ Penduduk di daerah tapal batas negara dan bekerja di negara yang berdekatan.

¯ Wisatawan yang hanya melewati suatu negara tanpa tinggal di negara yang dilaluinya itu.

Batasan tersebut tidak dapat diterima oleh Komisi Statistik dan Komisi Fasilitas Internasional Civil Aviation Organization, PBB. Komisi ini membuat rumusan baru. Istilah Tourist diganti dengan Foreign Tourist, dan memasukkan kategori Visitor di dalamnya.

Dalam rumusan Komisi Statistik ini dicantumkan batas maksimal kunjungan selama 6 bulan, sedangkan batas minimum 24 jam dikesampingkan. Selanjutnya batasan yang semula berdasarkan kebangsaan ( nationality) , diganti dengan berdasarkan tempat tinggal sehari –hari wisatawan. ( Country of Residence).

Menyadari ketidakseragaman pengertian tersebut Internasional Union of Official Travel Organization ( IUOTO), sebagai badan organisasi pariwisata internasional yang memiliki anggota lebih kurang 90 negara telah mengambil inisiatif dan memutuskan batasan yang sifatnya seragam melalui PBB pada tahun 1963 di Roma.

Visitor adalah “ Any person travelling to country other than that of his usual place of residence, for any reason other than the exercise of a remunerated activity”. ( Setiap orang yang mengadakan perjalanan ke suatu negara lain, di luar tempat tinggal biasanya, dengan alasan apapun, selain melakukan kegiatan untuk mendapat upah ).

Batasan tersebut mencakup dua kategori pengertian Tourist dan Excursionists.

Tourist are temporary visitors staying at least 24 hours in the country visited and whose motives for travel are :

¯ Leisure ( pleasure, holidays, health, studies, religion and sports)

¯ Business , family, mission, meetings

(Wisatawan adalah pengunjung sementara, tinggal sekurag-kuragnya 24 jam di negara yang dikunjungi dan motif perjalanannya adalah :

¯ Kesenangan, liburan, kesehatan, belajar, keagamaan dan olah raga

¯ Usaha, kunjungan keluarga, missi, pertemuan-pertemuan

Excursionists are temporary visitors staying only on one day in the country visited without staying overnight (including cruise passenger).

(Excursionists adalah pengunjung sementara, tinggal satu hari di negara yang dikunjungi tanpa menginap, termasuk penumpang kapal pesiar).

B. Wisatawan Domestik

Wisatawan Domestik adalah seseorang penduduk suatu negara yang melakukan perjalanan ke tempat selain dimana ia tinggal menetap. Perjalanan tersebut dilakukan dalam ruang lingkup negara dimana yang bersangkutan tinggal, dengan lama perjalanan sekurag-kurangnya 24 jam, dengan tujuan tidak untuk mendapatkan nafkah.

3. Produk Wisata

Produk wisata adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh wisatawan dari mulai ia meninggalkan tempat tinggalnya sampai kembali ke tempat tinggalya semula. Atau dapat diartikan pula keseluruhan pengalaman yang dialami wisatawan dari mulai keberangkatan, selama perjalanannya sampai kembali ke tempat tinggalnya.

4. Atraksi Wisata

Istilah atraksi wisata yang digunakan oleh penulis adalah sebagai terjemahan dari Attraction dalam bahasa Inggris, yang berarti segala sesuatu yang memiliki daya tarik, baik benda yang berbentuk pisik maupun non-pisik.

Pengertian atraksi seing diartikan sempit yakni “pertunjukan”. Sedangkan attraction diterjemahkan dengan “obyek” wisata.

Oleh karena segala sesuatu yang dapat menarik, dalam bahasa Inggris menggunakan istilah attraction, maka penulis memilih menggunakan atraksi wisata daripada obyek wisata. Konotasi pengertian obyek wisata lebih besar kepada benda-bedna mati dan belum tentu memiliki daya tarik.

5. Sarana Wisata

Adalah sarana ekonomi yang diperlukan langsung oleh wisatawan, seperti : Transportasi, Akomodasi, Restoran, Atraksi Wisata, Souvenir dan lain-lain.

6. Prasarana Wisata

Prasarana wisata adalah sarana ekonomi yang secara tidak langsung dibutuhkan oleh wisatawan . Seperti pelabuhan , jalan raya, instalasi air dan lain-lain.

NOTE:

Menurut definisi yang luas pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bresifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan antara keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial budaya, alam dan ilmu.

Namun, ada banyak batasan mengenai apa yang dimaksud dengan “wisatawan”. Dalam Intruksi Presiden No. 9/1969 dinyatakan :“Wisatawan adalah setiap orang yang berpergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan menikmati perjalanan dari kunjungan itu.”

a) Pariwisata internasional

Dari sudut pandangan ekonomi negara penerima wisatawan, wisatawan internasional dapat dibagi menjadi dua kategori:

§ yang benar-benar wisatawan (holiday makers) yang mengadakan perjalanan untuk kesenangan, dan

§ yang datang untuk keperluan usaha atau pekerjaan (business),studi, misi, dan lain-lain.

Narnun dalam praktek, keduanya adalah konsumen dan pembawa devisa. Yang perlu diperhatikan ialah bahwa mereka tidak melakukan kegiatan yang bersifat produktif di negara yang dikunjunginya, serta tidak pula melakukan pekerjaan yang mendapatkan bayaran. Dengan kata lain uang yang mereka belanjakan tidak diperoleh dan bukan berasal dari negara yang dikunjungi.

b) Menurut Liga Bangsa-bangsa dan IUOTO

Yang bisa dianggap wisatawan:

§ Mereka yang mengadakan perjalanan untuk kesenangan karena alasan keluarga, kesehatan, dan lain-lain.

§ Mereka yang mengadakan perjalanan untuk keperluan perternuan-perternuan atau karena tugas-tugas tertentu (iirnu pengetahuan,tugas pemerintahan, diplomasi, agama, olah raga, dan lain-lain).

§ Mereka yang mengadakan perjalanan dengan tujuan usaha.

§ Mereka yang datang dalam rangka perjalanan dengan kapal laut walaupun tinggal di suatu negara kurang dari 24 jam.

Yang tidak diauggap sebagai wisatawan adalah:

§ Mereka yang datang baik dengan maupun tanpa kontrak kerja, dengan tujuan mencari pekerjaan atau mengadakan kegiatan usaha di suatu negara.

§ Mereka yang datang untuk mengusahakan tempat tinggal tetap di suatu negara.

§ Penduduk di daerah tapal batas negara dan mereka yang bertempat tinggal di suatu negara dan bekerja di negara yang berdekatan.

§ Pelajar, mahasiswa dan orang-orang muda di asrama-asrama pelajar dan asrama-asrama mahasiswa.

§ Wisatawan-wisatawan yang melewati suatu negara tanpa tinggal, walaupun perjalanan tersebut berlangsung lebih dari 24 jam.

Wisatawan: ialah pengunjung sementara yang tinggal sekurang kurangnya 24 jam di negara/kota yang dikunjungi dan tujuan perjalanannya dapat digolongkan sebagai berikut:

a) Pesiar yaitu untuk keperluan rekreasi, liburan, kesehatan, studi, keagamaan, olah raga.

b) Hubungan dagang, sanak keluarga, handai taulan, konferensi- konferensi, misi.

Pelancong: ialah pengunjung sementara yang tinggal di negara / kota yang dikunjungi kurang dari 24 jam (termasuk pelancong dalam perjalanan kapal pesiar)

Tambahan lagi:

Sejak dipopulerkannya istilah pariwisata oleh Presiden Soekarno pada Musyawarah Nasional Tourism ke-2 di Tretes Jawa Timur pada tanggal 12-14 Juni 1958 (Musanef, 1996: 9), pemerintah semakin optimis bahwa pembangunan pariwisata dapat mendongkrak devisa negara. Tapi, dalam perjalanannya, pendapatan dari sektor pariwisata tidak semulus yang direncanakan. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dari tahun ke tahun semakin melorot, walaupun rupiah mengalami depresiasi yang mengakibatkan biaya hidup di Indonesia semakin murah namun tetap tidak dapat menarik wisatawan. Menurunnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia dapat dilihat di Tabel Statistik Kunjungan Wisman ke Indonesia Tahun 2005, dengan berdasarkan pintu masuk.

Berdasarkan tabel di atas, terlihat turunnya total jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sekitar 10,31 % dan hanya tiga pintu masuk yang menerima kunjungan wisatawan mancanegara di atas 1.000.000 orang. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata di Indonesia kurang menarik minat wisatawan mancanegara untuk datang berkunjung dan masih terkonsentrasinya pada Daerah Tujuan Wisata (DTW) tertentu. Untuk menyiasati masalah tersebut, pemerintah melakukan gebrakan dengan menggencarkan promosi-promosi wisata di dalam maupun di luar negeri.

Sebenarnya, tindakan yang dilakukan oleh pemerintah sudah tepat bila dibarengi dengan kesiapan DTW yang dipromosikannya. Sampai sekarang, DTW tertentu saja yang siap menerima kunjungan wisatawan. Sehingga sebaik apapun bentuk promosi yang dilakukan oleh pemerintah, tidak akan membawa hasil yang signifikan bila tidak dibarengi oleh pengemasan produk pariwisata di DTW. Faktor ini akan menimbulkan kekecewaan wisatawan karena kenyataan di lapangan berbeda dengan janji promosi yang mereka lihat dan dengar.

Produk Pariwisata

Menurut Spillane (1994: 14), kegiatan pariwisata dapat menjadi besar disebabkan tiga hal: (1) Penampilan yang eksotis dari pariwisata; (2) Adanya keinginan dan kebutuhan orang modern yang disebut hiburan waktu senggang; dan (3) Memenuhi kepentingan politis pihak yang berkuasa dari negara yang dijadikan daerah tujuan turisme. Dapat dikatakan bahwa pariwisata adalah aktivitas yang dilibatkan oleh orang-orang yang melakukan perjalanan (Mill, 2000: 21). Memang, sebagian besar aktivitas pariwisata berhubungan dengan mobilitas, dengan istilah kepariwisataannya disebut tur, yaitu suatu kegiatan perjalanan yang mempunyai ciri-ciri tersendiri yang memberi warna wisata, bersifat santai, gembira, bahagia, dan untuk bersenang-senang (Nuriata, 1992: 11).

Berdasarkan aktivitasnya, penyelenggaraan pariwisata harus memenuhi tiga determinan yang menjadi syarat mutlak, yaitu: (1) Harus ada komplementaritas antara motif wisata dan atraksi wisata; (2) Komplementaritas antara kebutuhan wisatawan dan jasa pelayanan wisata; (3) Transferbilitas, artinya kemudahan untuk berpindah tempat atau bepergian dari tempat tinggal wisatawan ke tempat atraksi wisata (Soekadijo, 1997: 23).

Dipertegas oleh Witt dan Motinho (1994: 29), sistem pariwisata menunjukkan bahwa pariwisata berada di dalam lingkungan fisik, teknologi, sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Sistem ini melibatkan dua tipe area, yaitu area yang menghasilkan dan area yang menerima. Bagian dari area yang menghasilkan terdiri dari pelayanan tiket, operator tur, dan agen perjalanan, ditambah dengan pemasaran dan kegiatan promosi dari persaingan kawasan tujuan. Saluran tranportasi dan komunikasi yang menghubungkan bagian dari sistem pariwisata melalui tranportasi udara, darat, dan air yang membawa turis ke/dan/dari adalah ketiga bagian tersebut. Sedangkan area penerima menyediakan fungsi akomodasi, catering, minuman, industri hiburan, obyek dan atraksi wisata, tempat pembelanjaan, dan pelayanan wisata. Atas penegasan tersebut, jelas bahwa produk pariwisata meliputi keseluruhan pelayanan yang diperoleh, dirasakan, atau dinikmati wisatawan, semenjak ia meninggalkan rumah di mana biasanya ia tinggal, sampai ke daerah tujuan wisata yang telah dipilihnya, dan kembali ke rumahnya (Yoeti, 1996: 172).

Ditambahkan oleh Baud-Bovy (Yoeti, 2002: 128), produk pariwisata adalah sejumlah fasilitas dan pelayanan yang disediakan dan diperuntukkan bagi wisatawan, yang terdiri dari tiga komponen, yaitu sumber daya yang terdapat pada suatu DTW, fasilitas yang terdapat di suatu DTW, dan transportasi yang membawa dari tempat asalnya ke suatu DTW tertentu. Bagaimana kalau seorang wisatawan yang melakukan perjalanan wisata secara individu dan membeli komponen paket wisata secara terpisah (tiket dipesan sendiri, kamar hotel dicari ketika berada di kota yang dikunjungi, makan dipilih di mana yang mereka suka, hiburan sesuai dengan event yang ada, obyek dan atraksi wisata dipilih setelah sampai di DTW yang dikunjungi) dapat disebut sebagai produk industri pariwisata?

Dalam hal ini, Yoeti (2002: 128) menjelaskan bahwa wisatawan membeli secara terpisah (buy separately) yang langsung membeli kepada unit-unit usaha yang termasuk dalam kelompok industri pariwisata. Hal seperti ini tidak dapat dikatakan sebagai bentuk membeli produk industri pariwisata, tetapi membeli produk airline (tiket), hotel (kamar), restourant (food and beverages), entertainment (cultural performance), tourist attractions (natural and cultural resources).

Dari uraian tersebut, semakin jelas bahwa produk industri wisata merupakan produk gabungan (composite product), campuran dari berbagai (as a amalgam of) obyek dan atraksi wisata (tourist attractions), tranportasi (transportation), akomodasi (accommodations), dan hiburan (entertainment). Tiap komponen disuplai oleh masing-masing perusahaan atau unit kelompok industri pariwisata. Kini semakin jelas, bila dilihat dari sisi wisatawan, produk industri pariwisata itu tidak lain adalah suatu pengalaman yang lengkap semenjak ia meninggalkan negara asal, selama di DTW yang dikunjungi, hingga ia kembali pulang ke tempat asalnya.

Berkaitan dengan produk pariwisata, menurut Marrioti (dalam Yoeti, 1996: 172-173), manfaat dan kepuasan berwisata ditentukan oleh dua faktor yang saling berkaitan, yaitu: (1) Tourist resources, yaitu segala sesuatu yang terdapat di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik agar orang-orang mau datang berkunjung ke suatu tempat daerah tujuan wisata; dan (2) Tourist service, yaitu semua fasilitas yang dapat digunakan dan aktivitas yang dapat dilakukan, sementara itu pengadaannya disediakan oleh perusahaan lain secara komersial.

Wisatawan akan melakukan perjalanan wisata bila terdapat hubungan antara motif melakukan wisata dengan daerah yang dituju. Sedangkan perjalanan wisata dapat dilakukan bila ada sarana untuk mencapai tempat tersebut, seperti pesawat terbang, kereta api, kapal laut, dan kereta. Sarana ini tidak cukup memenuhi syarat bila di area yang menjadi DTW tidak dilengkapi sarana untuk keperluan hidup wisatawan selama berwisata, seperti jasa makanan dan minuman, akomodasi, hiburan, tempat perbelanjaan, dan sarana transportasi yang dapat mengantarkan ke tempat-tempat wisata lainnya. Agar perjalanan wisata ke DTW dapat terpuaskan, maka diperlukan pengemasan produk pariwisata yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan wisatawan.

Fresh Fruits

Fresh Fruits

Mengemas Fasilitas

Langkah awal yang dianjurkan oleh Kotler, Bowen, dan Makens (2002: 251) dalam mengemas produk pariwisata adalah membagi pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli khas yang mungkin membutuhkan produk, atau disebut dengan segmentasi pasar. Langkah selanjutnya adalah membidik pasar dengan cara mengevaluasi daya tarik masing-masing segmen dan memilih satu atau beberapa segmen pasar. Maksudnya, tindakan yang harus dilakukan setiap DTW adalah mengemas produknya disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan wisatawan mancanegara yang dibidiknya. Untuk mendukung tindakan tersebut, DTW harus mengembangkan posisi bersaing dalam produk pariwisatanya dengan DTW lainnya, atau disebut sebagai kegiatan menetapkan posisi.

Banyak obyek dan atraksi wisata di Indonesia yang ditawarkan, akan tetapi di beberapa tempat dikeluhkan oleh Tour Leader luar negeri karena tidak ada perubahan (Yoeti: 1997: 58). Hal ini perlu diperhatikan karena Tour Leader adalah perwakilan dari operator tur yang mempromosikan dan membawa wisatawan datang ke DTW. Jika obyek yang dipromosikan masih pada atraksi yang terbatas, maka suatu saat dia akan menghentikan promosi daerah tersebut dengan memilih DTW lainnya.

Harus disadari bahwa wisatawan melakukan perjalanan wisata ke suatu DTW tertentu adalah untuk mencari pengalaman-pengalaman baru, menemukan sesuatu yang aneh dan belum pernah disaksikannya. Wisatawan biasanya lebih menyukai sesuatu yang berbeda (something different) dari apa yang pernah dilihat, dirasakan, dilakukan di negara yang biasanya ditempati. Yoeti (1997) menyarankan bahwa mengemas produk pariwisata harus mempertahankan keaslian lingkungan karena kemasan ini selalu lebih menarik daripada yang dibuat-buat. Oleh karena itu, menciptakan suatu lingkungan yang tidak asli (artificial) dari keadaan yang sebenarnya pasti tidak akan bertahan lama, dan tidak menguntungkan bagi bagi promosi kepariwisataan jangka panjang di Indonesia. Bukan hanya soal keasliannya, tetapi semua pelayanan yang diberikan kepada wisatawan hendaknya memiliki style yang beda dari yang lain tetapi tetap memuaskan wisatawan. Style produk sangat diperlukan dalam mengemas DTW, tujuannya ialah untuk memperbaharui dan menguasai pasar (to re-new dan re-sell the market) sehingga dapat menjamin penjualan. Dikatakan oleh Yoeti (1997: 59), product style dalam kepariwisataan dianggap baik dengan syarat-syarat: (1) Obyek harus menarik untuk disaksikan maupun dipelajari; (2) Mempunyai kekhususan dan berbeda dari obyek yang lain; (3) Prasarana menuju ke tempat tersebut terpelihara dengan baik; (4) Tersedia fasilitas something to see, something to do, dan something to buy; (5) Kalau perlu dilengkapi dengan sarana-sarana akomodasi dan hal lain yang dianggap perlu.

Bila produk yang ditawarkan oleh berbagai produsen dianggap sama oleh wisatawan, maka perbedaan yang menguntungkan terletak pada product style yang dimiliki. Oleh sebab itu, diperlukan suatu seni (art) untuk mengolah satu obyek wisata sedemikian rupa, sehingga dengan adanya obyek tersebut beserta segala fasilitas yang tersedia dapat menjadikan suatu DTW yang menarik untuk dikunjungi. Untuk mendukung pengemasan product style sistem pariwisata, maka perlu diadakan survey terhadap obyek dan atraksi wisata yang potensial untuk ditawarkan. Hadinoto (1996: 69-70) menjelaskan bahwa survei diadakan untuk menggolongkan obyek dan atraksi wisata menjadi: (1) Penggolongan jenis kepariwisataaan, berupa destination tourism (untuk wisatawan yang tinggal lama) dan touring tourism (untuk wisatawan yang tinggal sebentar); (2) Penggolongan atraksi, berupa atraksi utama (core attraction), atraksi pendukung (supporting attraction); (3) Penggolongan jenis atraksi yang terdiri dari resource-based attraction dan user-oriented attraction.

Pada penjelasan di atas, yang dimaksud dengan touring tourism ialah atraksi, transportasi, fasilitas pelayanan, dan pengarahan promosi yang digunakan dalam tur ke beberapa lokasi selama perjalanan akhir minggu atau liburan. Atraksi terletak di dekat rute perjalanan, di persimpangan jalan, dan hanya dikunjungi satu kali oleh masing-masing kelompok pengunjung. Aktivitas hampir pasif karena waktu yang hampir terbatas, adanya jadwal perjalanan tertentu.

Distribusi geografis adalah suatu sirkuit, bukan suatu titik. Sedangkan destination tourism adalah geografis suatu kelengkapan sendiri. Semua aktivitas dilakukan di satu titik destinasi, yang harus direncanakan untuk kunjungan berulang (Hadinoto, 1996: 29-30). Mengemas obyek dan atraksi wisata agar sesuai dengan bentuk touring tourism bertujuan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang tinggal sebentar, sebaliknya untuk wisatawan yang hendak tinggal lebih lama, obyek dan atraksi wisata dikemas dalam bentuk destination tourism. Mengemas obyek wisata Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Monjali di Jawa Tengah merupakan bagian dari konsep touring karena obyek tersebut tidak didukung oleh sarana yang dapat menahan wisatawan lama dalam jangka waktu. Sedangkan pengemasan berdasarkan konsep destination tourism dapat diperhatikan pada obyek wisata Pantai Kuta di Bali, Gunung Bromo di Jawa Timur, dan Pantai Senggigi di Nusa Tenggara Barat. Kawasan ini dipenuhi oleh fasilitas-fasilitas yang mamu menahan wisatawan untuk beberapa lama, seperti hotel, restoran, dan tempat hiburan.

Di samping itu, ada hal lain yang juga perlu diperhatikan dalam penataan obyek wisata dan atraksi wisata yang menarik. Tindakan yang harus dilakukan adalah menetapkan obyek dan atraksi wisata sebagai obyek wisata inti (core attraction) dan pendukungnya (supporting attraction). Contoh penataan ini dapat dipelajari pada DTW di Bali, yang inti atraksinya adalah Danau Kintamani dengan pendukungnya adalah kesenian Tari Barong, kerajinan perak, Pasar Sukowati, pemandian tirta empul, dan sejenisnya. Jarak antara obyek inti dan obyek pendukungnya berdekatan sehingga dapat dikunjungi kurang dari satu hari dan rutenya dirancang berbentuk lingkaran (cycle) sehingga wisatawan dapat kembali ke tempat keberangkatan semula.

Dalam menata obyek dan atraksi wisata, penyelenggara di DTW lebih mencermati jenis atraksinya yang mampu mendatangkan wisatawan jarak jauh/luar negeri, misalnya Candi Borobudur, Danau Toba, dan Gunung Bromo. Perlu digolongkan pula obyek dan atraksi wisata yang mampu menarik orang lokal berekreasi, misalnya Air Terjun Sedudo, dan Kolam Renang Selecta. Penggolongan atraksi pertama disebut dengan resource-based attraction, sedangkan penggolongan kedua disebut sebagai user-oriented attraction.

Selain obyek dan atraksi wisata, sarana akomodasi harus direncanakan secara matang, misalnya dalam mengembangkan dan menetapkan lokasinya. Sarana akomodasi berperan sangat penting karena wisatawan yang meninggalkan tempat tinggalnya memerlukan sarana penginapan di DTW yang mereka kunjungi. Perencanaan pengembangan sarana akomodasi yang dikerjakan secara sembarang akan berdampak pada lama tinggal (length of stay) wisatawan di DTW, maka dalam mengembangkan sarana akomodasi yang baik harus memenuhi persyaratan fasilitas, pelayanan, tarif, dan lokasi (Soekadijo, 1997: 95).

Syarat-syarat fasilitas akomodasi yang terpenting adalah: (1) Bentuk fasilitas akomodasi harus dapat dikenal (recognizable), misalnya fasilitas mandi di dalam hotel yang paling baik dalam kepariwisataan adalah bak mandi rendam (bathtub); (2) Semua fasilitas di dalam hotel harus berfungsi dengan baik; (3) Penempatan fasilitas yang terdapat di dalam hotel harus dapat dilihat oleh wisatawan sehingga mempermudah wisatawan untuk mempergunakan; (4) Fasilitas-fasilitas yang digunakan di dalam hotel harus memiliki kualitas yang baik atau bermutu.

Sedangkan syarat pelayanan wajib memperhatikan tentang unsur aktornya, terutama mengenai kegiatan aktornya, yaitu apa yang dikerjakan dalam memberikan pelayanan. Pelayanannya harus dapat diandalkan, dengan adanya kemudahan untuk dihubungi dan selalu siap dalam membantu kesulitan wisatawan. Demikan pula kualitas pelayanannya harus bermutu, artinya pelayanan yang dikerjakan oleh aktor tersebut harus bebas dari kesalahan.

Agar hotel dapat memberikan jasa dengan baik, di samping fasilitas dan pelayanannya, faktor menetapkan tarif tidak boleh diabaikan. Tarif akomodasi dalam pariwisata tidak berdiri sendiri, akan tetapi merupakan komponen dari biaya perjalanan seluruhnya yang harus dikeluarkan oleh wisatawan. Penetapan tarif akomodasi harus rencanakan dengan cermat karena merupakan salah satu bahan pertimbangan wisatawan untuk berwisata ke suatu DTW.

Di samping persyaratan-persyaratan yang telah dijelaskan di atas, pembangunan dan pengembangan sarana akomodasi harus memperhatikan masalah lingkungan. Persyaratan lingkungan hotel menuntut bahwa citra hotel dengan citra lingkungan itu harus saling sesuai, artinya menetapkan lokasi pengembangan dan pembangunan sarana akomodasi harus dapat mengangkat citra lingkungan di mana hotel tersebut berdiri. Jangan sampai berdirinya suatu hotel berakibat timbulnya ekses-ekses dan citra negatif di lingkungan masyarakat.

Dalam merencanakan kawasan, sarana akomodasi wisata patut mempertimbangkan juga syarat sentralitas akomodasi. Maksudnya, lokasi sarana akomodasi diusahakan berada di tengah-tengah atau berdekatan dengan tempat atraksi wisata. Jauh dan dekat di sini harus diartikan berdasarkan kenyamanan, waktu, dan biaya untuk mencapainya. Meskipun jaraknya jauh, kalau dapat dicapai dalam waktu singkat dan nyaman dengan biaya murah, makan jarak itu adalah dekat. Sebaliknya, jarak yang dekat menjadi jauh kalau untuk mencapainya diperlukan waktu yang lama dan perjalanan yang tidak enak dan dengan biaya mahal. Persyaratan sentralitas perlu dipertimbangkan karena berhubungan dengan aktivitas wisatawan yang sebagaian besar waktunya untuk mengunjungi obyek dan atraksi wisata. Bila jarak antara atraksi wisata dengan akomodasi berjauhan, akan menyebabkan wisatawan mengalami kelelahan. Akibatnya, wisatawan tidak betah tinggal lama di DTW tersebut. Apabila persyaratan sentralitas itu menghubungkan sarana akomodasi dengan atraksi wisata, maka sarana itu juga dituntut memenuhi syarat untuk mudah ditemukan dan mudah dicapai. Lokasi yang amat tepat adalah dekat terminal-terminal angkutan, bandar udara, stasiun kereta api, dan pelabuhan. Sedangkan lokasi lainnya dapat berada di sepanjang jalan raya atau jalan poros kota. Akomodasi yang terletak di sepanjang jalan-jalan itu dengan sendirinya akan dilalui wisatawan.

Mengemas obyek dan atraksi wisata serta sarana akomodasi yang baik belum cukup untuk mendatangkan wisatawan ke DTW bila tanpa adanya kemudahan aksesibilitas menuju ke atraksi wisata. Sarana untuk mempermudah akses dan mobilitas wisatawan dapat dipenuhi dengan menyediakan sarana transportasi baik melalui darat, udara, dan laut. Dalam mengemas sarana transportasi yang baik perlu direncanakan di mana jasa kendaraan angkutan itu dapat diperoleh. Sebaiknya, jasa angkutan itu diselenggarakan antara tempat pemberangkatan (point of departure) dan tempat tujuan (point of arrival). Agar memiliki nilai tambah di mata wisatawan, transportasi di DTW harus memiliki fasilitas yang berkualitas, pelayanan yang sempurna, dan keramahtamahan. Mengemas ketiga hal yang telah dijelaskan di atas kurang lengkap bila tidak tersedia jasa pendukung lain, seperti restoran, bengkel, SPBU, katering, dan tempat hiburan. Sebagai contoh, jika jalan dan kendaraan menuju ke obyek dan atraksi wisata sudah bagus, maka orang masih akan berpikir apakah ia berani mengadakan perjalanan. Soalnya, di tengah perjalanan pengendara perlu makan, kendaraan bermotor memerlukan bahan bakar, dan kalau ada kerusakan mesin kendaraan memerlukan bengkel. Tanpa jasa-jasa pendukung, kegiatan pariwisata tidak akan bisa beroperasional secara konsisten.

Penyempurnaan pengemasan patut diperhatikan dalam penataan lima jenis komponen DTW (Hadinoto, 1996: 36), berupa: (1) Gateway atau pintu masuk (pintu gerbang), seperti bandar udara, pelabuhan laut, stasiun kereta api, dan terminal bis; (2) Tourist centre atau pusat pe­ngembangan pariwisata (PPP), yang dapat berupa suatu kawasan wisata (resort) atau bagian kota yang ada; (3) Attraction atau atraksi kelompok satu atau lebih; (4) Tourist corridor atau pintu masuk wisata, yang menghubungkan gateway dengan tourist centre, dan dari tourist centre ke attraction; (5) Hinterland atau tanah yang tidak digunakan untuk empat komponen tersebut.

Wisatawan lazimnya datang lewat gateway, kemudian menuju ke PPP di mana ia menemukan akomodasi dan semua usaha jasa pelayanan pendukung wisata, seperti restoran, toko cenderamata, biro perjalanan wisata, dan persewaan kendaraan. Dari PPP ia mengadakan perjalanan wisata ke atraksi wisata, melewati koridor wisata. Sambil berjalan di koridor wisata, ia menikmati pemandangan indah dan kehidupan rakyat (desa, pengolahan tegal, dan sawah) yang disebut sebagai hinterland. Hinterland ini perlu tetap menarik, dan tidak diubah menjadi bangunan tinggi, pabrik, dan sebagainya. Penetapan lokasi sebagai PPP wajib memperhatikan sarana akomodasi, tempat hiburan, toko cenderamata, jarak menuju ke atraksi wisata tidak boleh terlalu jauh, dan armada transportasi perlu dibenahi dalam segi kuantitas, kua­litas, dan pelayanan, karena sarana ini yang mengantarkan wisatawan ke obyek dan atraksi wisata yang hendak dikunjunginya.

Mengemas Pelayanan

Pengemasan fasilitas-fasilitas produk pariwisata yang baik tidak akan cukup menarik wisatawan bila tidak diberi roh. Pelayanan adalah roh yang akan menggerakkan aktivitas pariwisata sebab yang dibeli oleh wisatawan adalah pelayanan sejak dia berangkat, datang ke DTW, dan kembali lagi ke tempat asal. Menurut Sugiarto (1999: 36), pelayanan adalah tindakan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan orang lain (konsumen, pelanggan, tamu, klien, pasien, penumpang, dan lainnya) yang tingkat pemuasnya hanya dapat dirasakan orang yang sedang melayani maupun yang dilayani.

Berkaitan dengan memberikan pelayanan, yang perlu diperhatikan adalah tingkat kepuasan wisatawan. Agar wisatawan terpuaskan selama melakukan perjalanan wisata, maka jasa-jasa pariwisata harus dapat menunjukkan kualitas jasanya. Terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi kualitas jasa, yaitu expected service dan perceived service. Apabila jasa yang diterima atau dirasakan sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas jasa dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika jasa yang diterima melampaui harapan pelanggan, maka kualitas jasa dipersepsikan sebagai kualitas yang ideal. Sebaliknya, jika jasa yang diterima lebih rendah daripada yang diharapkan, maka kualitas jasa dipersepsikan buruk. Dengan demikian, baik tidaknya kualitas jasa tergantung pada kemampuan penyedia jasa dalam memenuhi harapan wisatawan secara konsisten (Tjiptono, 2002: 60).

Berkaitan dengan memperlihatkan kualitas jasa, yang berperan sangat penting adalah contact personnel atau orang-orang yang terlibat dalam pariwisata, seperti pegawai pemerintah daerah, masyarakat, dan industri jasa. Mereka inilah aktor-aktor utama yang dapat memuaskan wisatawan. Sehingga upaya-upaya yang harus ditempuh untuk memuaskan wisatawan adalah dengan cara setiap orang yang terlibat melayani wisatawan harus memberikan pelayanan yang unggul (service excellence), seperti disarankan Elhaitammy (Tjiptono, 2002: 58), yaitu sikap atau cara karyawan dalam melayani pelanggan secara memuaskan berupa; kecepatan, ketepatan, keramahan, dan kenyamanan.

Keempat komponen tersebut merupakan satu kesatuan pelayanan yang terintegrasi. Maksudnya, pelayanan atau jasa menjadi tidak unggul bila ada komponen yang kurang. Untuk mencapai tingkat unggul, setiap orang harus memiliki keterampilan tertentu, di antaranya berpenampilan baik dan rapi, bersikap ramah, memperlihatkan gairah kerja dan sikap selalu siap melayani, tenang dalam bekerja, tepat waktu, tidak tinggi hati karena merasa dibutuhkan, menguasai pekerjaannya, mampu berkomunikasi dengan baik, bisa memahami bahasa isyarat (gesture) wisatawan, dan memiliki kemampuan menangani keluhan wisatawan secara tepat. Mengemas pelayanan yang unggul bukanlah pekerjaan mudah. Akan tetapi, bila hal tersebut dapat dilakukan, maka DTW yang menyelenggarakan pariwisata akan dapat meraih manfaat yang besar, terutama berupa kepuasan dan loyalitas wisatawan yang besar. Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu didukung komponen pariwisata yang terlibat, seperti pemerintah daerah, masyarakat, dan industri jasa. Wujud dukungan yang harus dilakukan oleh komponen pariwisata adalah bekerja sama dan berkomitmen dalam membangun pariwisata.

Komitmen dan Kerja Sama

Industri pariwisata bukan suatu industri yang berdiri sendiri melainkan terdiri dari berbagai komponen-komponen yang saling terkait. Penyelenggaraan sistem pariwisata dapat berjalan dengan sempurna bila komponen-komponen tersebut melebur menjadi satu dan saling mendukung satu dengan lainnya. Komponen-komponen kepariwisataan yang berperan dalam penyelenggaraan sistem industri pariwisata secara garis besar terdiri dari tiga komponen, yaitu pemerintah, jasa-jasa kepariwisataan, dan masyarakat di sekitar obyek dan atraksi wisata. Kewajiban pemerintah daerah adalah merencanakan, membangun, mengorganisasikan, memelihara, dan mengawasi secara bersama dengan pemerintah daerah lainnya dalam segala sektor yang mendukung kegiatan pariwisata. Pemerintah daerah berserta instansi-instansinya, industri jasa, dan masyarakat mempunyai kewajiban untuk duduk bareng bekerja sama dengan pemerintah daerah lainnya dalam mengemas paket-paket wisata.

Tindakan itu patut dilakukan karena aktivitas pariwisata tidak dapat dilakukan hanya pada satu area saja dan dilakukan secara tersekat-sekat. Aktivitas pariwisata memerlukan ruang gerak dan waktu yang fleksibel. Dengan adanya kerja sama dan komitmen, akan terbentuk kemitraan yang saling mengisi.

mengalami kendala karena jalur-jalur yang menghubungkan antara atraksi wisata yang satu dengan yang lainnya sudah tertata, terhubung dengan baik, dan dari segi keamanan dapat dikoordinasikan secara bersama. Kegiatan promosi dapat dilakukan bersama-sama antara pemerintah daerah dan swasta.

Demikian pula jika terdapat kekurangan-kekurangan, baik dalam sarana dan sumber daya manusia yang kurang terampil, pemerintah dapat membantu dalam bentuk fasilitator, bantuan dana, pelatihan-pelatihan, dan lain-lain. Sedangkan industri jasa harus memberikan pelayanan yang unggul dalam diferensiasi dan inovasi produk. Sebab, dengan memberikan pelayanan yang excellent dibarengi dengan diferensiasi dan inovasi produk, wisatawan tidak akan pernah bosan untuk datang kembali. Mereka akan selalu menemukan hal baru di DTW. Demikian pula masyarakat di sekitar obyek dan atraksi wisata harus ikut berpatisipasi yang diwujudkan ke dalam tindakan memberikan perasaan aman yang berupa keramahan dan perasaan yang tulus ketika menerima kedatangan wisatawan.

Di samping itu, masyarakat harus ikut terlibat dalam mengambil keputusan pembangunan pariwisata, berpartisipasi bersama-sama pemerintah daerah dalam memelihara sarana-sarana yang terdapat di obyek dan atraksi wisata, dan ikut andil mendukung kegiatan pariwisata dalam bentuk berjualan produk khas daerah tersebut dengan tidak lupa memperhatikan faktor higienis dan sanitasinya serta pelayanannya.

Dari beberapa sumber, semoga bermanfaat.


Iklan Lowongan Pekerjaan

Iklan Lowongan Pekerjaan

2.Terjemahan Iklan Lowongan Kerja, Wajib Anda Ketahui!

Bila membaca iklan lowongan kerja di surat kabar, pamflet, majalah, dll., cobalah Anda artikan dulu setiap kalimat yang dituliskannya sebagai persyaratan pelamar kerja. Berikut ini terjemahan bebas dari beberapa kalimat tersebut…

- Dibutuhkan tenaga kerja muda, pengalaman tidak mutlak.
artinya: Dibutuhkan tenaga kerja yang siap digaji di bawah standar.

- Menyukai tantangan.
artinya: Akan menghadapi pekerjaan/tugas sulit dimana tidak/belum ada seorang pun di perusahaan tersebut yang sanggup membantu untuk menyelesaikan/ mencari solusinya.

- Berkendaraan sendiri.
artinya: Perusahaan tidak cukup modal untuk menyediakan kendaraan dan ongkos transportasi operasional.

- Memiliki SIM.
artinya: Siap-siap merangkap jadi supir pribadi bos.

- Tinggal tidak jauh dari lokasi perusahaan.
artinya: Siap-siap mondar-mandir ke kantor, tak peduli tengah malam, hari libur, atau lagi sakit.

- Berwawasan luas.
artinya: Bidang pekerjaan yang ditawarkan tidak spesifik, siap-siap jadi tukang apa aja atau seksi sibuk sekali.

- Dibutuhkan tenaga wanita, single, menarik.
artinya: Dibutuhkan wanita yang siap “bupati” dan pamer “sekwilda” untuk boss boss (cantik dan seksi only + berani diapa-apain ditanggung bayaran tinggi)

- Dibutuhkan pria/wanita ….
artinya: Bila kemampuannya hampir sama, maka wanita yang diterima.

- Menjalani masa percobaan selama 3 bulan.
artinya: Pihak perusahaan meragukan kemampuan para pelamar kerja untuk menempati posisi yang ditawarkan. Atau untuk menghancurkan kompetitor dengan menarik keyperson perusahaan kompetitor dengan tawaran 3x lipat gaji tapi mesti melewati probation 3 bulan, setelah itu dipecat dengan alasan tidak perform. Mati luh…

- Mau bekerja dengan sistem deadline.
artinya: Perusahaan sudah memiliki proyek yang harus segera diselesaikan oleh pelamar kerja bila diterima dan siap kerja siang malam sampe matek (dead).

- Mau bekerja dengan sistem kontrak.
artinya: Perusahaan hanya membutuhkan Anda sementara waktu.

- Mau bekerja dengan sistem bagi hasil.
artinya: Perusahaan tidak sudi memodali Anda dan tidak mau menanggung resiko atas kegagalan Anda (resiko tanggung sendiri).

- Jujur.
artinya: Pegawai perusahaan yang sebelumnya menempati posisi yang ditawarkan telah membawa lari uang perusahaan, alias posisinya basah.

- Berat dan tinggi badan ideal.
artinya: Kerja di front office/customer service.

- Menguasai Bahasa Asing (inggris., perancis., …).
artinya: Perusahaan memiliki masalah komunikasi internal & external.

- Dapat bekerja dalam tim.
artinya: Siap ngajarin sesuatu kepada karyawan lain yang belum mengusai sesuatu tsb.

- Siap ditempatkan di luar kota.
artinya: Get a new life in a new neighbourhood!

- Berpengalaman kerja di bidang yang sama.
artinya: Perusahaan tidak mengerti apa saja yang menjadi tugas Anda nantinya, diharapkan Anda yang mengajari mereka.

- Menguasai MsWord, Power Builder, ….
artinya: Hanya itu yang mampu dibeli/disediakan perusahaan.

- Freelance dan tidak mengikat waktu
artinya : pasti MLM

- Mau menjadi Investor
artinya: Hati-hati kalo yang ini pasti GRAHA FINESA yang bermasalah dan sudah ditutup tapi masih gentayangan orang-orangnya merekrut karyawan.

sumber: rileks.com

Takut minta naik gaji.

Takut minta naik gaji.

3. Jenis Jenis Ketakutan Pada Manusia ” Phobia”

Mungkin salah satu dari Anda belum tahu jenis-jenis Ketakutan (Phobia).
Di bawah ini adalah jenis-jenis Ketakutan (Phobia).
Nah, termasuk yang manakah Anda???

Takut Air – Hydrophobia
Takut Agama – Theologicophobia
Takut Alat Kelamin – Kolpophobia
Takut Aliran Udara – Aerophobia
Takut Alkohol – Methyphobia
Takut Alkohol – Potophobia
Takut Amnesia – Amnesiphobia
Takut Anggur – Oenophobia
Takut Angin – Ancraophobia

Takut Angka – Arithmophobia
Takut Angka 13 – Triskaidekaphobia
Takut Angka 8 – Octophobia
Takut Anjing – Cynophobia
Takut Anjing Laut – Lutraphobia
Takut Anus – Rectophobia
Takut Api – Arsonphobia
Takut Api – Pyrophobia
Takut Awan – Nephophobia
Takut Ayam – Alektorophobia
Takut Ayan – Hylephobia
Takut Badut – Coulrophobia
Takut Bahan Kimia – Chemophobia
Takut Bangunan Tinggi – Batophobia

Takut Banjir – Antlophobia
Takut Bapak Tiri – Vitricophobia
Takut Batu Nisan – Placophobia
Takut Bau Badan – Bromidrosiphobia
Takut Bau Bauan – Olfactophobia
Takut Bau Busuk – Autodysomophobia
Takut Bawa Mobil – Amaxophobia
Takut Bawang Putih – Alliumphobia
Takut Bayangan – Sciaphobia
Takut Bebas – Eleutherophobia
Takut Belanda – Dutchphobia
Takut Benang – Linonophobia
Takut Benda di Sebelah Kanan – Dextrophobia
Takut Benda di Sebelah Kiri – Levophobia

Takut Berantakan – Ataxophobia
Takut Berbicara – Laliophobia
Takut Bercinta – Malaxophobia
Takut Bercinta – Sarmassophobia
Takut Berdosa – Hamartophobia
Takut Berfikir – Phronemophobia
Takut Berita Baik – Euphobia
Takut Berjalan – Stasibasiphobia
Takut Berjanji – Enissophobia
Takut Berkhotbah – Homilophobia
Takut Berlarut – Apeirophobia
Takut Bersenggama – Coitophobia
Takut Bertanggung Jawab – Hypegiaphobia
Takut Binatang – Zoophobia
Takut Binatang Liar – Agrizoophobia
Takut Binatang Melata – Herpetophobia

Takut Bintang – Astrophobia
Takut Bintang – Siderophobia
Takut Bintang Berekor – Cometophobia
Takut Bom Atom – Atomosophobia
Takut Boneka – Pediophobia
Takut Boneka Bersuara Perut – Automatonophobia
Takut Bosan – Xerophobia
Takut Botak – Phalacrophobia
Takut Buang Air Besar – Rhypophobia
Takut Buku – Bibliophobia
Takut Bulan – Selenophobia

Takut Bulu Ayam – Pteronophobia
Takut Bunga – Anthophobia
Takut Bunga Es – Pagophobia
Takut Bungkuk – Kyphophobia
Takut Burung – Ornithophobia
Takut Buta – Scotomaphobia
Takut Cabut Gigi – Odontophobia
Takut Cacing – Helminthophobia
Takut Cacing – Scoleciphobia
Takut Cacing Pita – Taeniophobia
Takut Cacing Pita Babi – Trichinophobia
Takut Cahaya – Photophobia
Takut Cahaya dari Utara – Auroraphobia
Takut Caplak – Phthiriophobia

Takut Cemburu – Zelophobia
Takut Cermin – Catoptrophobia
Takut Cina – Sinophobia
Takut Corak Baru – Cainophobia
Takut Daerah Perbatasan – Claustrophobia
Takut Daging – Carnophobia
Takut Dagu – Geniophobia
Takut Danau – Limnophobia
Takut Darah – Hemaphobia
Takut Debu – Amathophobia
Takut Debu – Koniophobia
Takut Demam – Febriphobia
Takut Demam – Fibriophobia
Takut Demo – Daemonophobia
Takut dengan Seks – Erotophobia
Takut Dewa – Zeusophobia
Takut Di dalam Rumah – Oikophobia
Takut di Ejek – Katagelophobia
Takut di Hipnotis – Hynophobia
Takut Di pandang – Opthalmophobia
Takut Diabaikan – Athazagoraphobia
Takut Dibatasi – Merinthophobia
Takut Dibenci – Melophobia

Takut Dicekik – Pnigophobia
Takut Dicuri – Cleptophobia
Takut Dihukum – Mastigophobia
Takut Dihukum Berat – Rhabdophobia
Takut Dikubur Sendirian – Taphephobia
Takut Diluar Ruangan – Spacephobia
Takut Dingin – Cheimaphobia
Takut Dingin – Psychrophobia
Takut Dinilai Negatif – Socialphobia
Takut Diracun – Toxicophobia
Takut Dirampok – Harpaxophobia
Takut Disentuh – Aphenphosmphobia
Takut Disentuh – Chiraptophobia
Takut Disentuh – Haphephobia
Takut Disuntik – Trypanophobia
Takut Ditatap – Scopophobia
Takut Ditertawakan – Catagelophobia
Takut Ditinggal Sendiri – Eremophobia
Takut Dokter Gigi – Dentophobia
Takut Dubur – Proctophobia

Takut Duduk – Cathisophobia
Takut Duduk – Taasophobia
Takut Duduk di Bawah – Kathisophobia
Takut Emas – Aurophobia
Takut Es Batu – Cryophobia
Takut Fenomena Kosmis – Kosmikophobia
Takut Filosofi – Philosophobia
Takut Gagal – Atychiphobia
Takut Gagap – Psellismophobia
Takut Gatal – Acarophobia
Takut Gatal – Pellagrophobia
Takut Gedung Pertunjukan – Theatrophobia
Takut Gelap – Achluophobia
Takut Gelap – Lygophobia
Takut Gelas – Hyelophobia
Takut Gelombang – Kymophobia
Takut Gembira – Cherophobia

Takut Gerakan – Kinetophobia
Takut Gereja – Ecclesiophobia
Takut Getaran – Tremophobia
Takut Gravitasi – Barophobia
Takut Guntur – Ceraunophobia
Takut Halloween – Samhainophobia
Takut Hamil – Tocophobia
Takut Hantu – Bogyphobia
Takut Hantu – Phasmophobia
Takut Hantu – Spectrophobia
Takut Hujan – Ombrophobia
Takut Hujan – Pluviophobia
Takut Hukum – Dikephobia
Takut Hukuman – Poinephobia

Takut Hutan – Hylophobia
Takut Hutan – Xylophobia
Takut Hutan di Malam Hari – Nyctophobia
Takut Ibu Tiri – Novercaphobia
Takut Ide – Ideophobia
Takut Ide Baru – Cenophobia
Takut Ikan – Ichthyophobia
Takut Inggris – Anglophobia
Takut Insektisida – Entomophobia

Takut Istilah Latin – Hellenologophobia
Takut Jadi Gila – Lysssophobia
Takut Jadi Homoseks – Homophobia
Takut Jahudi – Judeophobia
Takut Jalan – Ambulophobia,
Takut Jamur – Mycophobia
Takut Jarum – Aichmophobia
Takut Jatuh – Basiphobia
Takut Jatuh Cinta – Philophobia

Takut Jelek – Cacophobia
Takut Jembatan Penyeberangan – Gephydrophobia
Takut Jenggot – Pogonophobia
Takut Jenis Kelamin Berbeda – Heterophobia
Takut Jepang – Japanophobia
Takut Jerman – Germanophobia
Takut Jerman – Teutophobia
Takut Jomblo – Anuptaphobia
Takut Jum’at ke 13 – Paraskavedekatriaphobia
Takut Kabut – Homichlophobia
Takut Kacang – Arachibutyrophobia
Takut Kaget – Hormephobia

Takut Kain Lap – Vestiphobia
Takut Kain Satin – Satanophobia
Takut Kalah – Kakorrhaphiophobia
Takut Kanker – Carcinophobia
Takut Kanker – Cancerophobia
Takut Kata Kata – Logophobia
Takut Kata Kata – Verbophobia
Takut Kata Panjang – Hippopotomonstroses quippedaliophobia
Takut Kata yang Panjang – Sesquipedalophobia

Takut Katak – Ranidaphobia
Takut Kaya – Plutophobia
Takut Ke Sekolah – Didaskaleinophobia
Takut Kecelakaan – Dystychiphobia
Takut Kedalaman – Bathophobia
Takut Kedokter – Iatrophobia
Takut Kegelapan – Myctophobia
Takut Kegelapan – Scotophobia
Takut Kejatuhan Benda – Atephobia

Takut Kekacauan – Demophobia
Takut Kelahiran – Parturiphobia
Takut Kelainan Bentuk – Dysmorphophobia
Takut Kelamin Wanita – Eurotophobia
Takut Kemajuan – Prosophobia
Takut Kembali ke Rumah – Nostophobia
Takut Kembung – Anginophobia
Takut Kencing – Urophobia
Takut Keramaian – Agoraphobia

Takut Kerang-Kerangan – Ostraconophobia
Takut Kereta Api – Diderodromophobia
Takut Keriput – Rhytiphobia
Takut Kerja Berlebihan – Ponophobia
Takut Kertas – Papyrophobia
Takut Kesakitan – Agliophobia
Takut Ketinggian – Altophobia
Takut Ketinggian – Hypsiphobia
Takut Ketularan – Tapinophobia

Takut Keturunan – Patroiophobia
Takut Kezaliman – Tyrannophobia
Takut Kilat – Brontophobia
Takut Kodok – Bufonophobia
Takut Komputer – Cyberphobia
Takut Komputer – Logizomechanophobia
Takut Kotor – Automysophobia
Takut Kotoran – Myxophobia
Takut Kriminal – Peccatophobia

Takut Kristal – Crystallophobia
Takut Kuburan – Coimetrophobia
Takut Kucing – Ailurophobia
Takut Kucing – Elurophobia
Takut Kucing – Felinophobia
Takut Kuda – Equinophobia

Takut Kuda – Hippophobia
Takut Kulit Binatang – Doraphobia
Takut Kuman – Spermatophobia
Takut Kunci – Chronomentrophobia
Takut Kutu – Pediculophobia
Takut Laba Laba – Arachnophobia
Takut Laki Laki – Androphobia
Takut Laki Laki – Arrhenophobia
Takut Lampu Sorot – Selaphobia
Takut Laut – Thalassophobia
Takut Lawan Jenis – Sexophobia
Takut Lebah – Apiphobia

Takut Lecet – Amychophobia
Takut Lelah – Kopophobia
Takut Lembab – Hygrophobia
Takut Lengket di Langit Mulut – Arachibutyrophobia
Takut Listrik – Enochlophobia
Takut Logam – Metallophobia
Takut Lompat – Catapedaphobia
Takut Luka – Dematophobia
Takut Luka – Traumatophobia

Takut Lumpuh – Poliosophobia
Takut Lumpur – Blennophobia
Takut Lutut – Genuphobia
Takut Mabuk Udara – Aeronausiphobia
Takut Makan – Phagophobia
Takut Makan – Sitiophobia
Takut Makanan – Cibophobia
Takut Makanan – Sitophobia
Takut Mal Praktek – Ergasiophobia

Takut Malam – Noctiphobia
Takut Maling – Scelerophobia
Takut Mandek – Ankylophobia
Takut Mandi – Ablutophobia
Takut Marah – Angrophobia
Takut Masak – Mageirocophobia
Takut Mata Kabur – Diplophobia
Takut Mata Mata – Ommatophobia
Takut Matahari – Heliophobia

Takut Matahari – Phengophobia
Takut Mati – Necrophobia
Takut Mati – Thantophobia
Takut Melahirkan – Lockiophobia
Takut Melahirkan – Maieusiophobia
Takut Melarat – Peniaphobi
Takut Melihat Massa – Ochlophobia
Takut Membelakangi – Dishabiliophobia
Takut Membuat Keputusan – Decidophobia

Takut Membuat Perubahan – Tropophobia
Takut Membuka Satu Mata – Optophobia
Takut Membusuk – Seplophobia
Takut Menari – Chorophobia
Takut Mencium – Philemaphobia
Takut Mendengar Kata Tertentu – Onomatophobia
Takut Menderita – Panthophobia
Takut Menganggur – Domatophobia
Takut Mengingat – Mnemophobia

Takut Menikah – Gamophobia
Takut Menjadi Sakit – Nosemaphobia
Takut Menstruasi – Monophobia
Takut Menua – Gerascophobia
Takut Menulis di Papan – Scriptophobia
Takut Menunggu Lama – Macrophobia
Takut Menyeberang – Agyrophobia
Takut Menyeberang Jalan – Dromophobia
Takut Merasa Nyaman – Hedonophobia

Takut Mertua – Pentheraphobia
Takut Mertua – Soceraphobia
Takut Mesin – Mechanophobia
Takut Meteor – Meterorophobia
Takut Mikroba – Bacillophobia
Takut Mikroba – Microbiophobia
Takut Milik – Orthophobia
Takut Mimisan – Epistaxiophobia
Takut Mimpi – Oneirophobia

Takut Mimpi Basah – Oneirogmophobia
Takut Minum Obat – Pharmacophobia
Takut Minuman – Dipsophobia
Takut Mitos – Mythophobia
Takut Mobil – Motorphobia
Takut Monster – Teratophobia
Takut Mukanya Merah – Ereuthophobia
Takut Mulut Kejang – Tetanophobia
Takut Muntahan – Emetophobia

Takut Naik Mobil – Ochophobia
Takut Naik Pesawat – Aerophobia
Takut Naik Pesawat – Aviophobia
Takut Nama Nama – Namatophobia
Takut Neraka – Hadephobia
Takut Neraka – Stigiophobia
Takut Ngaca – Eisoptrophobia
Takut Ngaceng – Ithypallophobia
Takut Ngebut – Tachophobia

Takut Ngengat – Mottophobia
Takut Noda – Rupophobia
Takut Nomer – Numerophobia
Takut Nyeri – Algophobia
Takut Nyeri – Odynephobia
Takut Obat Baru – Neopharmaphobia
Takut Ombak – Cymophobia
Takut Operasi – Tomophobia
Takut Orang Asing – Xenophobia

Takut Orang Asing – Xenophobia
Takut Orang Botak – Peladophobia
Takut Orang Buntung – Apotemnophobia
Takut Orang Suci – Hagiophobia
Takut Otot Gerak Sendiri – Ataxiophobia
Takut Panas – Thermophobia
Takut Parasit – Parasitophobia
Takut Paus – Papaphobia
Takut Pelecehan Seksual – Agraphobia

Takut Pelecehan Seksual – Contreltophobia
Takut Peluru – Ballistophobia
Takut Pembicaraan Dinner – Deipnophobia
Takut Pemerkosa – Virginitiphobia
Takut Pendapat – Allodoxaphobia
Takut Pendeta – Hierophobia
Takut Pengemis – Hobophobia
Takut Pengetahuan – Epistemphobia
Takut Pengetahuan – Gnosiophobia

Takut Penis – Phallophobia
Takut Penis Berdiri – Medorthophobia
Takut Penis Loyo – Medomalacuphobia
Takut Penyakit – Pathophobia
Takut Penyimpangan Seks – Paraphobia
Takut Peralatan Listrik – Electrophobia
Takut Perancis – Francophobia
Takut Perjalanan – Hodophobia
Takut Perkara Hukum – Liticaphobia

Takut Perubahan – Metathesiophobia
Takut Petir – Astrapophobia
Takut Pikiran – Psychophobia
Takut Pin – Balenephobia
Takut Pin – Enetophobia
Takut Pingsan – Ashenophobia
Takut Pohon – Dendrophobia
Takut Politikus – Politicophobia
Takut Pria – Hominophobia

Takut Puisi – Mertophobia
Takut Pusaran Air – Dinophobia
Takut Rabies – Hydrophobophobia
Takut Rabies – Kynophobia
Takut Racun – Iophobia
Takut Racun – Toxiphobi
Takut Rambut – Chaetophobia
Takut Rambut – Trichopathophobia
Takut Rasa – Geumaphobia

Takut Rayap – Isopterophobia
Takut Reptil – Batrachophobia
Takut Reptil – Herpetophobia
Takut Ruang Kosong – Cenophobia
Takut Ruangan – Koinoniphobia
Takut Ruangan Kosong – Kenophobia
Takut Rumah – Ecophobia
Takut Rumah Sakit – Nosocomephobia
Takut Rusia – Russophobia

Takut Sakit Demam – Pyrexiophobia
Takut Sakit Diabetes – Diabetophobia
Takut Sakit Ginjal – Albuminurophobia
Takut Sakit Jantung – Cardiophobia
Takut Sakit Jiwa – Dementophobia
Takut Sakit Jiwa – Maniaphobia
Takut Sakit Kelamin – Cyprianophobia
Takut Sakit Kolera – Cholerophobia
Takut Sakit Kulit – Dermatophathophobia

Takut Sakit Kusta – Leprophobia
Takut Sakit Otak – Meningitiophobia
Takut Sakit Syphilis – Syphilophobia
Takut Sakit Syphillis – Luiphobia
Takut Salib – Staurophobia
Takut Salju – Chionophobia
Takut Sama Gadis – Parthenophobia
Takut Sapi Jantan – Taurophobia
Takut Saudara – Syngenesophobia

Takut Sayuran – Lachanophobia
Takut Segala Sesuatu – Polyphobia
Takut Segalanya – Panophobia
Takut Sekitar Rumah – Eicophobia
Takut Sekitar Rumah – Oikophobia
Takut Sekolah – Scoionophobia
Takut Seks – Genophobia
Takut Semangat – Pneumatiphobia
Takut Semut – Myrmecophobia

Takut Sendiri – Isolophobia
Takut Sendirian – Autophobia
Takut Sendirian – Monophobia
Takut Senjata Api – Hoplophobia
Takut Senjata Nuklir – Nucleomituphobia
Takut Sepeda – Cyclophobia
Takut Serangga – Epistaxiophobia
Takut Serangga – Insectophobia
Takut Seruling – Aulophobia

Takut Sesuatu dari Kiri – Sinistrophobia
Takut Sesuatu yang Baru – Kainolophobia
Takut Sesuatu yang Baru – Neophobia
Takut Sesuatu yang Besar – Megalophobia
Takut Sesuatu yang Kecil – Microphobia
Takut Silau – Photoaugliaphobia
Takut Simbol – Symbolophobia
Takut Simetris – Symmetrophobia
Takut Sinar X – Radiophobia

Takut Situasi yang Menakutkan – Counterphobia
Takut Skabies – Scabiophobia
Takut Suara – Acousticophobia
Takut Suara Keras – Ligyrophobia
Takut Suara Telpon – Phonophobia
Takut Subuh – Eosophobia
Takut Sungai – Potamophobia
Takut Surga – Ouranophobia
Takut Surga – Uranophobia

Takut Susah Be’ol – Coprastasophobia
Takut Tabuhan – Spheksophobia
Takut Tai – Coprophobia
Takut Takut Anak Anak – Pedophobia
Takut Tali – Cnidophobia
Takut Tambah Berat – Obesophobia
Takut Tambah Berat – Pocrescophobia
Takut Tanaman – Batonophobia
Takut Tangga – Climacophobia

Takut Tanggung Jawab – Paralipophobia
Takut Tantangan – Heresyphobia
Takut Tawon – Melissophobia
Takut TBC – Phthisiophobia
Takut TBC – Tuberculophobia
Takut Tebing – Cremnophobia
Takut Teknologi – Technophobia
Takut Tekstur Tertentu – Textophobia
Takut Telanjang – Gymnophobia

Takut Telanjang – Nudophobia
Takut Telpon – Telephophobia
Takut Tempat Sempit – Stenophobia
Takut Tempat Terbuka – Agoraphobia
Takut Tempat Tertentu – Topophobia
Takut Tempat Tertutup – Claustrophobia
Takut Tempat Tinggi Terbuka – Aeroacrophobia
Takut Terbahak – Geliophobia
Takut Terbang – Pteromerhanophobia

Takut Tergantung pada Orang – Soteriophobia
Takut Terkontaminasi Debu – Misophobia
Takut Terkunci – Cleisiophobia
Takut Tidak Sempurna – Atelophobia
Takut Tidak Simetris – Asymmetriphobia
Takut Tidur – Clinophobia
Takut Tidur – Somniphobia
Takut Tikus – Murophobia
Takut Tikus – Suriphobia

Takut Tikus Besar – Zemmiphobia
Takut Tornado – Lilapsophobia
Takut Tuhan – Theophobia
Takut Tulisan Tangan – Graphophobia
Takut Tuma – Verminophobia
Takut Uang – Chrematophobia
Takut Ujian – Tertaphobia
Takut Ular – Ophidiophobia
Takut Ular – Snakephobia
Takut Upacara Seremonial – Teleophobia
Takut Vaksinasi – Vaccinophobia
Takut Vertigo – Illyngophobia
Takut Waktu – Chronophobia
Takut Wangi-Wangian – Osphesiophobia
Takut Wanita – Gynephobia
Takut Wanita Cantik – Caligynephobia
Takut Wanita Cantik – Venustraphobia
Takut Wanita Sihir – Vitricophobia
Takut Warga – Anthropophobia
Takut Warna – Chromatophobia
Takut Warna Hitam – Melanophobia
Takut Warna Kuning – Xanthophobia
Takut Warna Putih – Leukophobia
Takut Warna Ungu – Porphyrophobia
Takut Wayang – Pupaphobia

sumber: esgrimsoklat.wordpress.com

4. Inilah 18 Modus Tindak Pidana Korupsi

Dari berbagai kasus korupsi yang ditangani KPK, ada banyak modus yang digunakan para tersangka. KPK menginventarisir berbagai modus tersebut dan mengklasifikasi dalam 18 modus tindak pidana korupsi. Apa saja?

Dalam ceramahnya di acara Penjelasan dan Dialog dengan Gubernur, Bupati, Walikota, dan Ketua DPRD dalam Sidang Paripurna Khusus di Gedung DPD-RI Senayan, Jakarta, Jumat (22/08), Ketua KPK Antasari Azhar memberikan tips mencegah terjadinya kebocoran keuangan negara baik APBN maupun APBD.

“Para kepala daerah harus mewaspadai setiap konflik kepentingan yang dilakukan dan diciptakan oleh pihak-pihak tertentu dalam berbagai bentuk untuk mempengaruhi para kepala daerah, konflik kepentingan merupakan penyebab utama terjadinya korupsi,” kata Antasari.

Dia kemudian menyebutkan, ada 18 modus tindak pidana korupsi yang selama ini paling sering dilakukan berdasarkan data yang dimiliki KPK.

1. Pengusaha menggunakan pejabat pusat untuk membujuk kepala daereah mengintervensi proses pengadaan barang/jasa dalam rangka memenangkan pengusaha tertentu dan meninggikan harga ataupun nilai kontrak.

2. Pengusaha mempengaruhi kepala daerah untuk mengintervemnsi proses pengadaan barang/jasa agar rekanan tertentu dimenangkan dalam tender atau ditunjuk ditunjuk langsung dan harga barang dinaikkan (di-mark up) .

3. Panitia pengadaan yang dibentuk Pemda membuat sepesifikasi barang yang mengarah pada merek produk atau sepesifikasi tertentu untuk memenangkan rekanan tertentu, serta melakukan mark up harga barang dan nilai kontrak.

4. Kepala daerah ataupun pejabat daerah memerintahkan bawahannya untuk mencairkan dan menggunakan dana/anggaran yang tidak sesuai dengan peruntukannya kemudian membuat laporan pertangungjawaban fiktif.

5. Kepala daerah memerintahkan bawahannya menggunakan dana untuk kepentingan pribadi si pejabat yang bersangkutan atau kelompok tertentu kemudian membuat pertanggungjawaban fiktif.

6. Kepala daerah menerbitkan Perda sebagai dasar pemberian upah pungut atau honor dengan menggunakan dasar peraturan perundangan yang lebih tinggi, namun sudah tidak berlaku lagi.

7. Pengusaha, pejabat eksekutif dan DPRD membuat kesepakatan melakukan ruislag (tukar guling) atas aset Pemda dan menurunkan (mark down) harga aset Pemda, serta meninggikan harga asset milik pengusaha.

8. Kepala daerah meminta uang jasa dibayar di muka kepada pemenang tender sebelum melaksanakan proyek.

9. Kepala daerah menerima sejumlah uang dari rekanan dengan menjanjikan akan diberikan proyek pengadaan.

10. Kepala daerah membuka rekening atas nama Kas Daerah dengan specimen pribadi (bukan pejabat atau bendahara yang ditunjuk). Maksudnya, untuk mempermudah pencairan dana tanpa melalui prosedur.

11. Kepala daerah meminta atau menerima jasa giro/tabungan dana pemerintah yang ditempatkan di bank.

12. Kepala daerah memberikan izin pengelolaan sumber daya alam kepada perusahaan yang tidak memiliki kemampuan teknis dan finansial untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

13. Kepala daerah menerima uang/barang yang berhubungan dengan proses perijinan yang dikeluarkannya.

14. Kepala daerah, keluarga ataupun kelompoknya membeli lebih dulu barang dengan harga murah untuk kemudian dijual kembali ke Pemda dengan harga yang sudah di-mark up.

15. Kepala daerah meminta bawahannya untuk mencicilkan barang pribadinya menggunakan anggaran daerah.

16. Kepala daerah memberikan dana kepada pejabat tertentu dengan beban pada anggaran dengan alasan pengurusasn DAK atau DAU.

17. Kepala daerah memberikan dana kepada DPRD dalam proses penyusnan APBD.

18. Kepala daerah mengeluarkan dana untuk perkara pribadi dengan beban anggaran daerah.

“Korupsi menimbulkan risiko yang sangat tinggi bagi gagalnya pembangunan nasional, terganggunya ekonomi nasional, serta kerugian keuangan negara yang dapat menimbulkan kesengsaraan masyarakat luas dan menimbulkan risiko yang tinggi bagi jabatan kepala daerah,” tutup Antasari.

sumber: inilah.com

SELAIN YANG DIUNGKAP KPK DIATAS,

ternyata masih ada banyak lagi: yang ini sumbernya dari saya.

KPK harus bisa menyelundupkan orang orangnya masuk kedalam jajaran birokrat, Eksekutif,Legislatif, Yudikatif, Badan, Lembaga dst.
Tentu saya akan ikut maju, untuk recruitment. Rasanya sudah gatal.

Jajaran MA, Kejaksaan Agung,POLRI, BPK, dst. juga harus dibersihkan dari anasir anasir Jahat.
Insyaalah selamatlah negara ini.

maaf, hati saya berkobar kobar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.